Try n Error

Try n Error

KeAriFan D4laM PeNdiDikan


Ika Dewi Ana
Amat terasa, terjadi kemacetan dalam proses pembelajaran. Pendidikan tinggi hanya memberi teori, berhenti sebagai informasi.
Mahasiswa sekadar datang, duduk, mendengar, dan mencatat (dikurangi berpikir) apa yang disampaikan dosen. Usai kuliah, salah seorang mahasiswa akan meminta salinan kuliah yang biasanya disusun dalam presentasi power point. Tak ada lagi hakikat belajar.
Krisis kearifan
Tahun 1991, Daoed Joesoef mengemukakan tesisnya tentang krisis metafisis yang dialami dunia pendidikan kita. Setelah Indonesia merdeka, kesempatan mengembangkan ilmu pengetahuan terbuka luas. Dengan segala keterbatasan, kesempatan itu dimanfaatkan melalui pembangunan berbagai pendidikan tinggi yang mengajarkan berbagai disiplin ilmiah. Namun, harus diakui, semangat ilmiah (scientific spirit) yang seharusnya melahirkan, menjiwai, dan memotori ilmu pengetahuan, berkembang lebih lambat daripada kenaikan jumlah penyandang gelar. Jumlah ilmuwan lebih sedikit daripada jumlah sarjana. Situasi paradoksal itu terjadi karena masyarakat menganggap ilmuwan identik sarjana identik.
Jauh hari, T Jacob (1988) juga merasakan hal ini. Daoed Joesoef melihat lebih dalam dan mengungkapkan, hal itu terjadi karena perlakuan tidak correct terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dipahami sebagai scientific product, bukan dalam makna yang lengkap scientific process, dan scientific community.
Apa yang dikemukakan T Jacob dan Daoed Joesoef itu masih relevan dengan situasi sekarang, bahkan mungkin kian buruk. Orang berlomba meraih kursi perguruan tinggi, kadang harus mengorbankan harta, tanpa memahami mengapa harus memasuki perguruan tinggi. Para dosen lebih berkutat dengan beragam masalah praksis. Pengelola perguruan tinggi dituntut untuk mengadopsi prinsip korporasi bisnis dalam menjalankan institusi. Kesempatan untuk meneliti, penyidikan, atau menjalankan percobaan sebagai rangkaian proses evolusi dan revolusi ilmu pengetahuan berjalan lambat.
Apa yang sedang terjadi berawal dari ketidakmampuan perguruan tinggi membangkitkan kecendekiaan dalam diri lulusan. Pengetahuan yang luas, kecerdasan (smartness), kemampuan mengenali inti hal-hal yang diketahui (insight), sikap hati-hati (prudence), pemahaman terhadap norma-norma kebenaran, dan kemampuan mencerna pengalaman hidup (Buchori 2000) yang menjadi ciri kecendekiaan tidak lagi ditemukan dalam pribadi lulusan perguruan tinggi, terbukti dengan ketidakmampuan lulusan saat berhadapan dengan dunia nyata, hampir tidak ada beda antara lulusan perguruan tinggi dengan masyarakat biasa yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Jarang lahir pembelajar sejati (true learner) dari kampus yang kian jauh dari masyarakat.
Awal ketidakmampuan membangkitkan sifat kecendekiaan dari perkuliahan yang berhenti pada transfer informasi. Warga perguruan tinggi tidak berkesempatan menginternalisasi informasi. Akhirnya, pengetahuan tidak pernah lahir dari perguruan tinggi, apalagi bila masyarakat berharap munculnya kearifan (wisdom) yang mestinya lahir dari proses pembelajaran. Kesempatan merasakan inti proses belajar—konflik dalam diri dan pemikiran—diambil alih dosen sehingga lahir jutaan mesin audiokopi dari perguruan tinggi.
Kearifan intuitif
Perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban serta sejarah kelahiran pemikir dan ilmuwan besar membuktikan, kearifan intuitif biasanya membuka jalan bagi perkembangan pengetahuan dan peradaban.
Pendidikan tinggi kita tidak memberi kesempatan pengasahan otak kanan. Hanya informasi yang terus berlipat yang bertubi-tubi disampaikan kepada mahasiswa. Akibatnya, warga perguruan tinggi kita tidak memiliki kesempatan (dan kemampuan) mentransformasi informasi menjadi pengetahuan baru yang akan meluas kepada kearifan, jalan yang membuka perkembangan pengetahuan dan peradaban.
Meski terlambat, sudah saatnya dikembangkan pembelajaran yang dapat mengembangkan kearifan, terutama di dunia perguruan tinggi. Perlu ada kesadaran bersama dan bersifat institusional untuk mengubah kebudayaan yang sudah mengakar, saat dosen mencabut kesempatan belajar mahasiswa dan seolah menjadi dewa pengetahuan sambil membiarkan mahasiswa menjadi mesin audiokopi. Atau, itukah yang kita inginkan?
Ika Dewi Ana
Pusat Pengembangan Pendidikan, Universitas Gadjah Mada

Aam

2 September 2006 - Posted by | Akademik

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: